KONGLOMERASI INDUSTRI PENYIARAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI POLITIK
Oleh : Yuli K (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)
A. Pendahuluan
Dunia penyiaran di Indonesia dewasa ini berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi informasi. Hal ini tentu telah banyak membawa perubahan kehidupan masyarakat Indonesia baik secara ekonomi, budaya, politik, dan lain – lain. Perkembangan dunia penyiaran selain dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik juga karena adanya tuntutan untuk dapat menyajikan infotainment yang cepat, akurat, dan terbuka. Apalagi kondisi masyarakat kita yang sangat konsumtif yang selalu menginginkan adanya sesuatu yang lain dari acara yang ditontonnya.
Denagn banyaknya stasiun televisi, radio ataupun surat kabar yang ada masyarakat semakin dimanjakan dengan hiburan, berita, dan sajian – sajian yang bervariasi. Ketika terjadi kebosanan pada satu stasiun televisi maka dengan mudah dapat mengganti channel lain atau mencari surat kabar lain yang diinginkannya. Hal ini tentu saja merupakan peluang bisnis yang bagus bagi mereka yang dapat menangkap keadaan tersebut
B. Pembahasan
Persaingan dibidang media massa telah membuka peluang baru seiring dengan semakin ketatnya persaingan bisnis informasi dan komunikasi, media massa dituntut untuk menampilkan acara, berita ataupun sajian yang dapat menarik penonton. Industri media tentu saja tidak dapat lepas dari kompetisi dan persaingan. Ketika beberapa perusahaan muncul dan memasok pada pasar yang sama dengan menu yang hampir sama maka persaingan tak dapat dihindarkan dan ini menjadi suatu konsekuensi yang harus dihadapi. Hanya perusahaan – perusahaan yang memiliki modal besar yang akan mampu bersaing dan memenangkan kompetisi tersebut.
Persaingan seperti inilah yang pada akhirnya memunculkan konsentrasi industri pada perusahaan – perusahaan besar, sebab perusahaan kecil yang tidak mampu untuk bertahan akan diambil alih oleh perusahaan besar atau paling tidak akan melakukan merger. Konsentrasi dalam hal kepemilikan perusahaan inilah yang pada akhirnya diikuti dengan konglomerasi yang ditandai dengan adanya perusahaan besar yang memiliki kumpulan perusahaan kecil yang bergerak dalam wilayah bisnis yang beraneka ragam. Dalam hal kepemilikan media ada dua tipe konsentrasi yaitu integrasi horisontal dan integrasi vertikal.
Tipe integrasi horisontal adalah proses dimana sebuah perusahaan membeli beberapa media yang berbeda yang tujuannya adalah untuk mendukung operasi dari masing – masing media. Sebagai contoh MNC (Media Nusantara Citra) yang saat ini menguasai RCTI, TPI, dan Global TV. Kompas yang menguasai TV7, Kawanku, Intisari, dan Bola.
Integrasi vertikal yaitu proses dimana perusahaan memiliki semua aspek produksi dan distribusi dari setiap produk media. Misalnya Indosiar dengan Akademi Fantasi Indosiarnya dimana dari proses pengambilan formulir dari majalah remaja Gaul, audisinya untuk daerah Jogjakarta dilaksanakan di JEC dan promosinya stasiun radio Geronimo FM. Bahkan setelah para akademia selesai menjalani masa pendidikan kontrak kerja yang dilakukannya juga hanya untuk Indosiar dan anak perusahaanya.
Dalam hal ini secara ekonomi politik hal seperti ini sangat dominan untuk mempertahankan status quo yang dipegangnya dan sebagai sarana pemilik modal untuk melipatgandakan modalnya, yang pada akhirnya akan menekan kelas – kelas dibawahnya dengan tujuan untuk menguasainya. Selain itu pemilikan media yang hanya dimiliki oleh sebagian pengusaha dan penguasa akan menimbulkan penyakit sosial karena hanya membuat media tertentu mendominasi wacana publik dengan mengalahkan media yang lainnya yang tidak memiliki modal besar.
Selain itu konsentrasi kepemilikan media ternyata menimbulkan efek konsentrasi antara lain homogenitas produk media dan kontrol media. Dimana acara atau program yang ditayangkan oleh media televisi hampir sama seperti tayangan Dunia Lain, Pemburu Hantu, tayangan Uka – Uka,Gentayangan. Deretan contoh bisa ditambahkan dengan penayangan sinetron komedi-horor Impian Pengantin, Jin Mooi, dan Mody Juragan Kost yang merupakan muara dari sukses Si Manis Jembatan Ancol. Karena begitu mengetahui acara yang disajikan mendapat rating yang tinggi dan tanggapan dari pemirsanya cukup bagus maka akan membuat acara lain yang sejenis. Hal seperti ini tentunya akan membuat kontrol media tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena mutu dari siaran lagi dipertimbangkan. Upaya untuk mengejar keuntungan dari acara yang disajikan menjadi tujuan untuk memaksimalkan profit.
Tetapi bisnis kepemilikan media di Indonesia untuk masa mendatang masih dapat menjanjikan keuntungan yang baik. Apalagi ditunjang dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif dan cenderung untuk mengutamakan hiburan sebagai kebutuhan pokok tambahan.
C. Penutup
Dari uraian diatas dapat disimpulkan konglomerasi terjadi karena adanya konsentrasi kepemilikan media yang mana konglomerasi ditandai dengan adanya perusahaan besar yang memiliki kumpulan perusahaan kecil, yang bergerak dalam wilayah bisnis yang sama. Yang pada akhirnya hanya akan menguasai dan tidak memberikan ruang gerak untuk berkembang bagi pemilik modal yang kecil, serta akan menimbulkan penyakit sosial masyarakat. Karena mutu acara atau program yang disajikan tidak lagi dipandang penting, pemilik modal hanya berfikir bagaimana mendapatkan keuntungan dan profit dari acara tersebut. Dan apabila hal ini dibiarkan bukan tidak mungkin bangsa ini pada akhirnya akan menjadi negara kapitalis yang perekonomiannya hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Sementara usaha kecil dan hanya dapat berharap untuk dibeli atau diangkat menjadi anak perusahaan yang memiliki modal besar.
DAFTAR PUSTAKA
Wardhana, Veven Sp. 1997. Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
www.sosiologikomunikasi.blogspot.com, Political Economy, Media dengan Institusi Sosial Lain, Lima Genre Utama Teori Media Kritis


0 Comments:
Post a Comment
<< Home