PUBLIK DISUGUHI BERITA YANG KOMERSIL
Oleh : AGUS SUSANTI (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM 20020530176, peserta mata kuliah sosiologi komunikasi)
Tiada hari tanpa gossip”, pernyataan itulah yang menjadi trend dalam kehidupan saat ini.gosip tidak hanya menyerang kaum hawa saja, tetapi juga menyerang kaum adam. Mengapa hal ini bias terjadi? Pertanyaan ini memang pantas untuk kita tanyakan karena pada era dahulu, yang namanya gossip lebih identik melekat pada kaum hawa. Kita tentu tahu dalam satu hari setiap stasiun televisi lebih dari satu kali menayangkan berita infotainment dengan jam tayang yang hampir bersamaan. Dimulai pada pagi hari, yang lazimnya orang akan memulai aktivitas kesehariannya,pada saat itu juga sudah dapat melihat tayangan gossip ditelevisi. Ketika hari beranjak siang, infotainmentpun sudah dengan setia muncul dilayar televise, begitu juga pada sore harinya berita gossip bertaburan menghiasi hampir seluruh stasiun televisi. Maka otomatis setiap hari kita dapat mengetahui acara-acara gossip terbaru dari para selebritis. Walaupun kalau kita perhatikan lebih cermat, bahwa pada dasarnya setiap berita yang dimunculkan pada satu stasiun televise, sama isi beritanya dengan stasiun lainnya, hanya saja cara penyajian dan penyampaian beritanya yang lumayan berbeda.
Berita gossip tidak hanya dikonsumsi oleh para kaum dewasa saja, tetapi kaum mudapun tak luput gemar bahkan senang dan menjadikan menonton acara gossip adalah suatu kewajiban. Mereka berasumsi jika tidak melihat acara gossip, maka mereka akan dibilang ketinggalan gossip. Setiap stasiun televisi juga memiliki strategi khusus untuk menjaring para pemirsa supaya tetap staytune disalurannya. Dengan cara, mereka berusaha sebesar mungkin mencari berita ya ng paling gress dan fresh.
Berita adalah suatu bentuk informasi, baik yang peristiwanya sudah lampau maupun yang terkini sedang terjadi. Sedangkan jika ditinjau dari tujuan pemberitaan itu sendiri adalah, memberikan atau menyampaikan suatu gayainformasi kepada khalayak luas ataupun kepada individu. Dalam berita juga terdapat isi ilmu pengetahuan, pendidikan dan hiburan.
Namun yang terjadi pada saat ini, informasi yang diberitakan bukan lagi berisi hiburan yang mendidik, tetapi berita yang dimuat justru didominasi oleh berita yang menyebar aib seseorang. Para pencari berita tidak hanya membuat orang yang diberitakan menjadi merasa tertekan, tetapi sekaligus menjadi malu karena privasinya sudah disebar luaskan. Sehingga hal ini akan memberi dampak yang buruk bagi psikhis para penontonnya.
Televisi adalah salah satu media elektronik yang memiliki andil besar dalam membentuk karakter masyarakat untuk beropini dalam bergaya hidup.keberadaan media cukup efektif mempengaruhi tidak saja opini pada suatu peristiwa, namun juga dapat mengubah kecenderungan gaya hidup masyarakat. Etika profesi seharusnya menjadi acuan kerja yang menjadi pedoman ketika menyusun dan menyajikan satu materi siaran. Etika siaran sebagai pranata sosial seharusnya dijadikan pemandu lembaga siaran agar kelembagaan institusi tersebut benar-benar memiliki komitmen moral yang diarahkan pada kebenaran dan kebijakan public. Sehingga media tidak dikendalikan oleh daya-daya tak berwajah yaitu rezim kapitalisme industri(Van peursen,1985).
Tanggung jawab moral media televise menjadi semakin tererosi oleh kepentingan ekonomi. Tapi celakanya dalam rangka menghegomoni imajinasi dan kesadaran public itu cara yang dilakukan dengan mengorbankan standard kepatutan publik yang mustinya menjadi acuan. Untuk mengatasi masalah tersebut hendaknya setiap stasiun televisi harus bisa memilih,mana berita yang pantas dikonsumsi oleh publik dan yang tidak. Setiap stasiun televisi harus sadar dan jangan mementingkan idiologinya (teori yang tidak berorientasi pada kebenaran,melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya. Minimal idiologi dianggap sebagai system berfikir yang sudah terkena distrosi, entah disadari atau tidak[sobur,2001,66]).Agar moral bangsa tidak tercemar karena mencontoh hal-hal yang tidak baik, yang dimunculkan oleh segelintir orang saja.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home