sosiologi komunikasi kelas D

Wednesday, May 04, 2005

PENYIARAN REALITY SHOW VERSI SOSIAL

Oleh : Sukma wati (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY angkatan 2000, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)


Menjamurnya beberapa tayangan televisi yang mengangkat seputar kehidupan kelas bawah dengan berbagai kemelaratannya memiliki kedudukan dan pengertian tersendiri dalam manifestasinya. Secara posisi masyarakat kelas bawah atau kaum marginal ditampilkan dengan berbagai keterasingannya secara materil. Dalam Proses produksinya acara seperti ini dikemas secara dramatis dan menciptakan argumentasi pihak tertentu sebagai penolong, dibalik adanya kepentingan lain yang ingin didapatkan. Bentuk acara seperti ini dapat diartikan sebagai media legitimasi moral yang memperlihatkan sebuah kondisi hidup dan prilaku. Pada satu sisi acara ini terbukti menggugah nurani karena ditengah maraknya media yang menyuguhkan tampilan bersifat glamour dan akslusif, ada semacam terobosan baru yang menarik untuk mengingatkan kita bahwa nilai komoditi sebuah acara tidak harus maniak menggambarkan suatu kemewahan dan bersifat modern.
Kelas bawah yang harus memperjuangkan nasib dan kemajuan mereka sendiri kini seperti mendapatkan cahaya baru lewat terobosan sistem produk kapital ini walaupun begitu ditengah keterpurukannya masyarakat tidak merasa adanya penghisapan manusia atas manusia (Magniz Franz : 1999:101-103) atau adanya unsur borjuasi dibalik niat suci itu, terlepas dari semua itu dinamikan pertumbuhan ide dalam media tidak lepas dari analisa terhadap lingkungan dan dogma yang ada dalam sebuah formasi sosial itu sendiri yang tengah berlangsung dan berkehidupan dalam masyarakat.
Reality show seperti (Tolong, Bedah Rumah, Uang Kaget, Lunas, Rezeki Nomplok, Kawin gratis, dll)menciptakan proletariat sebagai sumber eksploitasi, perlahan akan mengubur definisi kapitalisme para pemilik modal karena secara pandangan mereka akan membuat sebuah penghormatan pada mereka. Berdasarkan ideologi tayangan ini memang memiliki modus sosial dan berfungsi untuk mempersatukan sekelompok sosial dalam wilayah sosial yang semakin menurun dan individualis. Diamati dari persfektif sesama manusia acara reality show semacam ini memang terlihat seperti good will ditengah gersangnya kondisi nilai-nilai kemasyarakatan secara plural, juga nilai-nilai ketradisionalan yang semakin asing ditengah masyarakat yang lahir karenanya mengingat budaya ketimuran yang menjadi panutan negara ini semua unsur-unsur idealisme itu seperti tenggelam dalam kegilaan dan modernisasi teknologi. Perbaikan sosial yang salah satunya menjadi tujuan dari acara ini memberi sebuah eksistensi acara reality show semacam ini kiranya untuk dapat didefinisikan secara positif baik image maupun pandangan-pandangan yang akan muncul dan berkembang dalam masyarakat sebagai sebuah isu sosial.
Dengan memberikan pendekatan secara ideologi bertujuan untuk memberikan sedikit kesempatan dan peluang demi meningkatkan kepentingan masyarakat ditengah keterpurukannya serta memberikan penyadaran dan contoh guna pembelajaran antar sesama masyarakat memberi arti baru dari sebuah produksi media dilihat berdasarkan pandangan dan ideologinya, tentu bentuk produksi media seperti ini dalam mengusung ideologinya berbeda dengan bentuk dari produk media secara garis besar atau pada umumnya hal ini dapatkan dikatakan sebuah kemajuan produksi media atau malah kemerosotan publik karena jangkauan media yang telah memasuki ruang publik sedemikian transparan dan ekstrim dalam mengakomodir segala bentuk aspek kehidupan.
Media semakin meluaskan ruang lingkupnya dalam mengolah sebuah kondisi hidup untuk dapat dijadikan komoditi yang menghasilkan disamping ideologi yang diagungkan dan dilandaskan sebagai tujuan utama dari terciptanya produk media semacam ini dari sini semakin mengesahkan media sebagai alat yang berkuasa dari ideology yang dominan (dominant ideology). Akankah polemik seperti ini mampu menggugah kita sebagai seorang manusia yang tumbuh dan berkembang ditengah realitas yang ditampilkan media. Media sebagai cerminan publik dapatkah menjadikan tampilan seperti ini lebih membangkitkan semangat juang publik untuk bangun dan bangkit dari keterpurukan hidup atau malah masyarakat akan semakin malas untuk membenahi kehidupannya dan malah bersyukur dengan keterpurukannya. Tentu ini menjadi PR bagi kita untuk mengolah bentuk-bentuk tampilan media yang cenderung mengsploitir sejumlah iknoum yang tidak berdaya dan lemah. Dalam bentuk Reality show seperti ini,yang mengangkat masyarakat yang teraniaya oleh nasib untuk kemudian dihadirkan sosol dermawan hal ini memberi klaim bahwa pembuat dan pemiliki moda berusaha untuk semakin menajamkan adanya pihak yang kuat dan yang lemah.
Dari acara seperti ini dapat dilihat adanya pertukaran nilai dan akses kepentingan dengan format baru para investor tentu sangat berminat untuk turut serta dalam menanamkan omsetnya dalam bentuk acara baru seperti ini dikarenakan acara reality show semacam ini memiliki dua fungsi sekaligus yakni memenangkan hati publik secara ideologi dan mendapatkan keuntungan secara materil, sehingga double profit pun tak elak menjadi sebuah lahan potensial bagi para pemilik modal, dalam hal ini pemiik modal yang join us akan dikategorikan peka terhadap lingkungan dan memiliki jiwa sosial terhadap kepentingan masyarakat.
Produk baru didunia pertelevisian terhadap kaum papa(marginal) seperti mendpatkan sebuah legitimasi dalam prosesnya, tidak adanya penolakan dari kaum marginal terhadap bentuk kegiatan produksi seperti ini semakin mengukuhkan dan mengesahkan kaum kapitalis untuk dapat mengeksploitir dan mengakomodasi nilai apapun kebentuk dan format media untuk kemudian di konsumsi publik, menjadi cerminan bagi kita selaku masyarakat bahwa kita telah menjadi budak media menyatakan bahwa masyarakat kapitalis didominasi oleh suatu ideologi elite tertentu yang dikuasai oleh elite industri budaya (teori budaya) dalam hal ini yakni kerjasama antara pemilik modal atau kaum kapitalis dengan pemilik media, bias media menjadikan masyarakat menuruti apapun yang diperintahkan oleh media yang membuat manusia semakin terasing dalam kemurnian dalam kehidupan yang sesungguhnya, Semua sudah tercemar oleh nilai-nilai yang disuntikan oleh media melalui tampilan-tampilannya. Manusia semakin dipojokkan dalam mendapatkan haknya, privatisasinya. Hal ini terjadi karena sebagian besar manusia memberikan peluang dan big hole untuk dimasuki budaya media dan produk-produknya dengan beragam ideologi yang tak sedikit mengatasnamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat sebagai objek serta penerapan ideologi dominan dalam media yang merefleksikan adanya hegemini melawan kelompok lemah atau kaum marginal.
Pojokkan-pojokan terhadap media dimasa sekarang ini, dijaman seperti ini dimana pemanfaatannya sudah menjadi dependen bagi masyarakat mengingatkan kita untuk mencari jalan tengah bagi keduanya sebagai medium untuk menjadikan bagaimana media mampu berjalan selaras dengan nilai-nilai budaya masyarakat yang juga membutuhkan keberadaannya ditengah proses kehidupannya. Media dapat dijadikan warna yang melingkupi manusia. Bagaimana kita mampu memberikan pikiran positif dan kepercayaan pada media dalam melakukan kegiatan dan aktifitas produksinya, adanya ketergantungan antara keduanya dapat dijadikan wahana untuk saling melengkapi dan saling menguntungkan kedua belah pihak dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang ada dimana media itu berdiri.
Pada era yang serba catut dan carut marut ini masyarakat dapat bergandengan dengan media dalam meperbaiki sistem mengingat kekuatan media yang mampu mengangkat isu apapun memiliki fungsi tersendiri dalam pemanfaatannya. Menelusuri perkembangan media yangs emakin produktif dan berlomba-lomba dalam menciptakan sebuah trend setter memiliki kewajiban untuk membatasi diri dan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan khalayak bukan malah menciptakan sebuah kebutuhan, lewat berbagai produk media terhadap perkembangan hidup masyarakat. Bagaimana kita dapat membedakan sejauh mana efek media menguntungkan bagi pembelajaran dan menghibur masyarakat dan sejauh mana media dalam produk-produknya menghasilkans ebuah kemerosotan atau kerugian bagi masyarakat secara moral dan keberlangsungan prilaku dalam berkehidupan sosial.
Pengaruh media yang bersifat serentak dapat memberi pengaruh tersendiri bagi publik dalam produknya. Reality show yang mengusung sebuah kondisi hidup kaum tertentu dengan ideologinya diwajibkan untuk mampu mempertanggungjawabkan efek dari tampilnya karena ada sejumlah kelas yang diakomodir dans ecara jelas pemberian status terhadap mereka oleh media, dapatkah membuat masyarakat tersebut mampu memanfaatkan dan merubah kondisi mereka dari diri mereka sebuah dari sebuah usaha bukan tergantung pada media yang terlanjur memberi sebuah impian bagi mereka yang cenderung ekstrim dan menjanjikan dan akan membuat mereka hidup dalam dunia utopis yang ditawarkan.
Dalam menanggapi segala bantuan yang dijanjikan media mampukah mereka beranggapan bahwa media terbatas hanya pada waktu produk itu akan dibuat dan berlangsung tidak selamanya media akan memproduksi acara tersebut yang memikirkan nasib mereka seperti yang sedang berlangsung saat ini, masyarakat kelas bawah yang memang mengharap adanya bentuk produksi seperti in akan dependen dan menanti-nanti sehingga membatasi mereka untuk merubah nasib, maka dari itu pembatasan pada lingkungan media itu sendiri walaupun terkadang kita sering terjebak dalam jeratan media. Masyarakat dihadapkan pada dua sisi untuk bersuara atau menerima karena media dengans egala produk dan efek yang dihasilkannya berada ditengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik dan fakta yang beragam dan kompleks yang tak elak selalu menjadi bahan bagi media dalam menciptakan kelangsungan produknya (Alex Sobur 2004:20-23)

Sunday, May 01, 2005

Hiperralitas tubuh perempuan ideal dalam iklan RED-A versi “Gagal hang out karena hujan”

Oleh : Oktaria Hermin (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)

Dalam iklan ini menceritakan tentang tiga orang cewe’ yang masih muda belia, cantik, memiliki tubuh yang proporsional (langsing dan sexy), dan berkulit mulus. Mereka bertiga berencana hang out. Sebelum mereka keluar, mereka ingin tampil secantik mungkin. Kemudian mereka merias wajah mereka habis-habisan dengan menggunakan produk kecantikan dari RED-A. walaupun akhirnya mereka tidak jadi pergi karena hujan. Di dalam iklan tersebut, tubuh ketiga cewe’ cantik tadi di ekspose habis-habisan. Seperti kita tahu , RED-A dalam iklan ini, merupakan produk kecantikan untuk wajah, namun pada kenyataannya yang diekspose tidak hanya wajah mereka yang cantik saja, melainkan seluruh tubuh ketiga cewe’ cantik inipun turut di ekspose. Ditambah dengan menggunakan baju-baju yang sangat minimalis, ketiga cewe’ inipun mempertontonkan keindahan tubuh mereka. Ada yang hanya dengan menggunaan tank top dan celana yang sangat pendek, kemudian ada yang mengenakan rok mini yang di padupadankan dengan baju yang memperlihatkan puser. gaya hidup yang tercermin dalam iklan tersebut adalah gaya kehidupan anak muda yang bebas, seperti ngga’ ada beban, dan yang jelas mencerminkan kehidupan cewe’-cewe’ jaman sekarang. Seperti yang ada dalam lirik sebuah lagu “ cewe’-cewe’ jaman sekarang, banyak yang badung dan banyak yang nakal, udah mulai berani dalam berpakaian, bikin banyak cowo’ yang terangsang, baju japret puser kliatan, cewe’ indies istilahnya sekarang, brani bikin sensasi diliatin banyak orang, maklumlah katanya ngikutin jaman, cewe’indies…kehidupan tuk gaya, gaul dan makan…” (the joker, cewe’ indies, dari album ska mania). Selain itu dengan pose yang menggoda, dimana pose yang menggoda itu ada pada adegan sewaktu mereka ingin bersiap-siap untuk ke garasi, dan menuju mobil dan di dalam mobil yang terbuka itulah mereka memperlihatkan wajah cantik mereka karena sentuhan RED-A, selain itu mereka juga memperlihatkan sensualitas tubuh mereka dengan pose yang menggoda dengan dibalut busana sexy(misalnya saja, duduk di mobil dengan pose yang tidak sewajarnya, kaki di letakkan di setir, dsb.)) dan yang di ekspose pun tubuh bagian kaki keatas dari pemeran iklan tersebut (mungkin karena kameramennya adalah laki-laki). Kondisi ini dipertegas oleh otoritas media massa yang mengeksploitasi habis-habisan tubuh perempuan. Padahal yang melihat iklan ini bukan hanya kaum wanitanya saja melainkan kaum laki-laki pun juga bisa melihatnya. Seperti yang dikatakan Deddy Mulyana (1999)“ iklan diciptakan semata-mata untuk kepuasan kaum lelaki ”. Seperti halnya dalam iklan RED-A ini, dengan busana yang sexy, pose yang menggoda, akan menjadi santapan mata lelaki. Ditambah dengan adanya sentuhan kosmetik pada wajah-wajah mereka akan menambah kesan sexy pada tokoh wanita dalam iklan tersebut. Dan di dalam iklan ini juga tidak terlepas dari cultural tentang feminitas,ini mengidealisasikan appearance dari kaum wanita yang sangat dekat dengan citra feminin. “ kebanyakan iklan di media massa merupakan reproduksi stereotip peran tradisional kaum wanita ” (Deddy mulyana, 1999). wanita di dalam iklan ini, didentikkan dengan kegemarannya yaitu bersolek. Sedangkan feminitas seorang wanita di identifikasikan dengan kecantikan, kelembutan dan kehalusan kulit, serta tubuh yang proporsional. Sama seperti dalam iklan RED-A. Dalam hal ini, kecantikan menjadi sentral dari feminitas, dimana wanita di idealkan sebagai inkarnasi dari kecantikan fisik (Ratna noviani).


Referensi buku

Deddy mulyana, 1999. Nuansa-nuansa komunikasi. Meneropong politik dan budaya komunikasi masyarakat kontemporer. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ratna Noviani, 2002. Jalan tengah memahami iklan. Yogyakarta : pustaka pelajar.