sosiologi komunikasi kelas D

Thursday, June 30, 2005

BAGAIMANA MENGUTIP SUMBER DARI INTERNET DI DAFTAR PUSTAKA

Untuk mengutip sumber di internet
1. Jika kurang dari 5 baris yang dikutip menjadi satu bagaian
2. Kalau 5 baris atau lebih harus 1 spasi, masuk 1 tab
3. Tulis nama penulis dan tahun akses. Misal .........(Junaedi, 2005)
4. Di daftar pustaka ditulis :

Junaedi, Fajar (2005). Judul. Alamat internet, tanggal akses

5. Jika tidak seperti ini dianggap plagiatisme !!

Wednesday, May 04, 2005

PENYIARAN REALITY SHOW VERSI SOSIAL

Oleh : Sukma wati (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY angkatan 2000, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)


Menjamurnya beberapa tayangan televisi yang mengangkat seputar kehidupan kelas bawah dengan berbagai kemelaratannya memiliki kedudukan dan pengertian tersendiri dalam manifestasinya. Secara posisi masyarakat kelas bawah atau kaum marginal ditampilkan dengan berbagai keterasingannya secara materil. Dalam Proses produksinya acara seperti ini dikemas secara dramatis dan menciptakan argumentasi pihak tertentu sebagai penolong, dibalik adanya kepentingan lain yang ingin didapatkan. Bentuk acara seperti ini dapat diartikan sebagai media legitimasi moral yang memperlihatkan sebuah kondisi hidup dan prilaku. Pada satu sisi acara ini terbukti menggugah nurani karena ditengah maraknya media yang menyuguhkan tampilan bersifat glamour dan akslusif, ada semacam terobosan baru yang menarik untuk mengingatkan kita bahwa nilai komoditi sebuah acara tidak harus maniak menggambarkan suatu kemewahan dan bersifat modern.
Kelas bawah yang harus memperjuangkan nasib dan kemajuan mereka sendiri kini seperti mendapatkan cahaya baru lewat terobosan sistem produk kapital ini walaupun begitu ditengah keterpurukannya masyarakat tidak merasa adanya penghisapan manusia atas manusia (Magniz Franz : 1999:101-103) atau adanya unsur borjuasi dibalik niat suci itu, terlepas dari semua itu dinamikan pertumbuhan ide dalam media tidak lepas dari analisa terhadap lingkungan dan dogma yang ada dalam sebuah formasi sosial itu sendiri yang tengah berlangsung dan berkehidupan dalam masyarakat.
Reality show seperti (Tolong, Bedah Rumah, Uang Kaget, Lunas, Rezeki Nomplok, Kawin gratis, dll)menciptakan proletariat sebagai sumber eksploitasi, perlahan akan mengubur definisi kapitalisme para pemilik modal karena secara pandangan mereka akan membuat sebuah penghormatan pada mereka. Berdasarkan ideologi tayangan ini memang memiliki modus sosial dan berfungsi untuk mempersatukan sekelompok sosial dalam wilayah sosial yang semakin menurun dan individualis. Diamati dari persfektif sesama manusia acara reality show semacam ini memang terlihat seperti good will ditengah gersangnya kondisi nilai-nilai kemasyarakatan secara plural, juga nilai-nilai ketradisionalan yang semakin asing ditengah masyarakat yang lahir karenanya mengingat budaya ketimuran yang menjadi panutan negara ini semua unsur-unsur idealisme itu seperti tenggelam dalam kegilaan dan modernisasi teknologi. Perbaikan sosial yang salah satunya menjadi tujuan dari acara ini memberi sebuah eksistensi acara reality show semacam ini kiranya untuk dapat didefinisikan secara positif baik image maupun pandangan-pandangan yang akan muncul dan berkembang dalam masyarakat sebagai sebuah isu sosial.
Dengan memberikan pendekatan secara ideologi bertujuan untuk memberikan sedikit kesempatan dan peluang demi meningkatkan kepentingan masyarakat ditengah keterpurukannya serta memberikan penyadaran dan contoh guna pembelajaran antar sesama masyarakat memberi arti baru dari sebuah produksi media dilihat berdasarkan pandangan dan ideologinya, tentu bentuk produksi media seperti ini dalam mengusung ideologinya berbeda dengan bentuk dari produk media secara garis besar atau pada umumnya hal ini dapatkan dikatakan sebuah kemajuan produksi media atau malah kemerosotan publik karena jangkauan media yang telah memasuki ruang publik sedemikian transparan dan ekstrim dalam mengakomodir segala bentuk aspek kehidupan.
Media semakin meluaskan ruang lingkupnya dalam mengolah sebuah kondisi hidup untuk dapat dijadikan komoditi yang menghasilkan disamping ideologi yang diagungkan dan dilandaskan sebagai tujuan utama dari terciptanya produk media semacam ini dari sini semakin mengesahkan media sebagai alat yang berkuasa dari ideology yang dominan (dominant ideology). Akankah polemik seperti ini mampu menggugah kita sebagai seorang manusia yang tumbuh dan berkembang ditengah realitas yang ditampilkan media. Media sebagai cerminan publik dapatkah menjadikan tampilan seperti ini lebih membangkitkan semangat juang publik untuk bangun dan bangkit dari keterpurukan hidup atau malah masyarakat akan semakin malas untuk membenahi kehidupannya dan malah bersyukur dengan keterpurukannya. Tentu ini menjadi PR bagi kita untuk mengolah bentuk-bentuk tampilan media yang cenderung mengsploitir sejumlah iknoum yang tidak berdaya dan lemah. Dalam bentuk Reality show seperti ini,yang mengangkat masyarakat yang teraniaya oleh nasib untuk kemudian dihadirkan sosol dermawan hal ini memberi klaim bahwa pembuat dan pemiliki moda berusaha untuk semakin menajamkan adanya pihak yang kuat dan yang lemah.
Dari acara seperti ini dapat dilihat adanya pertukaran nilai dan akses kepentingan dengan format baru para investor tentu sangat berminat untuk turut serta dalam menanamkan omsetnya dalam bentuk acara baru seperti ini dikarenakan acara reality show semacam ini memiliki dua fungsi sekaligus yakni memenangkan hati publik secara ideologi dan mendapatkan keuntungan secara materil, sehingga double profit pun tak elak menjadi sebuah lahan potensial bagi para pemilik modal, dalam hal ini pemiik modal yang join us akan dikategorikan peka terhadap lingkungan dan memiliki jiwa sosial terhadap kepentingan masyarakat.
Produk baru didunia pertelevisian terhadap kaum papa(marginal) seperti mendpatkan sebuah legitimasi dalam prosesnya, tidak adanya penolakan dari kaum marginal terhadap bentuk kegiatan produksi seperti ini semakin mengukuhkan dan mengesahkan kaum kapitalis untuk dapat mengeksploitir dan mengakomodasi nilai apapun kebentuk dan format media untuk kemudian di konsumsi publik, menjadi cerminan bagi kita selaku masyarakat bahwa kita telah menjadi budak media menyatakan bahwa masyarakat kapitalis didominasi oleh suatu ideologi elite tertentu yang dikuasai oleh elite industri budaya (teori budaya) dalam hal ini yakni kerjasama antara pemilik modal atau kaum kapitalis dengan pemilik media, bias media menjadikan masyarakat menuruti apapun yang diperintahkan oleh media yang membuat manusia semakin terasing dalam kemurnian dalam kehidupan yang sesungguhnya, Semua sudah tercemar oleh nilai-nilai yang disuntikan oleh media melalui tampilan-tampilannya. Manusia semakin dipojokkan dalam mendapatkan haknya, privatisasinya. Hal ini terjadi karena sebagian besar manusia memberikan peluang dan big hole untuk dimasuki budaya media dan produk-produknya dengan beragam ideologi yang tak sedikit mengatasnamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat sebagai objek serta penerapan ideologi dominan dalam media yang merefleksikan adanya hegemini melawan kelompok lemah atau kaum marginal.
Pojokkan-pojokan terhadap media dimasa sekarang ini, dijaman seperti ini dimana pemanfaatannya sudah menjadi dependen bagi masyarakat mengingatkan kita untuk mencari jalan tengah bagi keduanya sebagai medium untuk menjadikan bagaimana media mampu berjalan selaras dengan nilai-nilai budaya masyarakat yang juga membutuhkan keberadaannya ditengah proses kehidupannya. Media dapat dijadikan warna yang melingkupi manusia. Bagaimana kita mampu memberikan pikiran positif dan kepercayaan pada media dalam melakukan kegiatan dan aktifitas produksinya, adanya ketergantungan antara keduanya dapat dijadikan wahana untuk saling melengkapi dan saling menguntungkan kedua belah pihak dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang ada dimana media itu berdiri.
Pada era yang serba catut dan carut marut ini masyarakat dapat bergandengan dengan media dalam meperbaiki sistem mengingat kekuatan media yang mampu mengangkat isu apapun memiliki fungsi tersendiri dalam pemanfaatannya. Menelusuri perkembangan media yangs emakin produktif dan berlomba-lomba dalam menciptakan sebuah trend setter memiliki kewajiban untuk membatasi diri dan mampu menyesuaikan dengan kebutuhan khalayak bukan malah menciptakan sebuah kebutuhan, lewat berbagai produk media terhadap perkembangan hidup masyarakat. Bagaimana kita dapat membedakan sejauh mana efek media menguntungkan bagi pembelajaran dan menghibur masyarakat dan sejauh mana media dalam produk-produknya menghasilkans ebuah kemerosotan atau kerugian bagi masyarakat secara moral dan keberlangsungan prilaku dalam berkehidupan sosial.
Pengaruh media yang bersifat serentak dapat memberi pengaruh tersendiri bagi publik dalam produknya. Reality show yang mengusung sebuah kondisi hidup kaum tertentu dengan ideologinya diwajibkan untuk mampu mempertanggungjawabkan efek dari tampilnya karena ada sejumlah kelas yang diakomodir dans ecara jelas pemberian status terhadap mereka oleh media, dapatkah membuat masyarakat tersebut mampu memanfaatkan dan merubah kondisi mereka dari diri mereka sebuah dari sebuah usaha bukan tergantung pada media yang terlanjur memberi sebuah impian bagi mereka yang cenderung ekstrim dan menjanjikan dan akan membuat mereka hidup dalam dunia utopis yang ditawarkan.
Dalam menanggapi segala bantuan yang dijanjikan media mampukah mereka beranggapan bahwa media terbatas hanya pada waktu produk itu akan dibuat dan berlangsung tidak selamanya media akan memproduksi acara tersebut yang memikirkan nasib mereka seperti yang sedang berlangsung saat ini, masyarakat kelas bawah yang memang mengharap adanya bentuk produksi seperti in akan dependen dan menanti-nanti sehingga membatasi mereka untuk merubah nasib, maka dari itu pembatasan pada lingkungan media itu sendiri walaupun terkadang kita sering terjebak dalam jeratan media. Masyarakat dihadapkan pada dua sisi untuk bersuara atau menerima karena media dengans egala produk dan efek yang dihasilkannya berada ditengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik dan fakta yang beragam dan kompleks yang tak elak selalu menjadi bahan bagi media dalam menciptakan kelangsungan produknya (Alex Sobur 2004:20-23)

Sunday, May 01, 2005

Hiperralitas tubuh perempuan ideal dalam iklan RED-A versi “Gagal hang out karena hujan”

Oleh : Oktaria Hermin (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)

Dalam iklan ini menceritakan tentang tiga orang cewe’ yang masih muda belia, cantik, memiliki tubuh yang proporsional (langsing dan sexy), dan berkulit mulus. Mereka bertiga berencana hang out. Sebelum mereka keluar, mereka ingin tampil secantik mungkin. Kemudian mereka merias wajah mereka habis-habisan dengan menggunakan produk kecantikan dari RED-A. walaupun akhirnya mereka tidak jadi pergi karena hujan. Di dalam iklan tersebut, tubuh ketiga cewe’ cantik tadi di ekspose habis-habisan. Seperti kita tahu , RED-A dalam iklan ini, merupakan produk kecantikan untuk wajah, namun pada kenyataannya yang diekspose tidak hanya wajah mereka yang cantik saja, melainkan seluruh tubuh ketiga cewe’ cantik inipun turut di ekspose. Ditambah dengan menggunakan baju-baju yang sangat minimalis, ketiga cewe’ inipun mempertontonkan keindahan tubuh mereka. Ada yang hanya dengan menggunaan tank top dan celana yang sangat pendek, kemudian ada yang mengenakan rok mini yang di padupadankan dengan baju yang memperlihatkan puser. gaya hidup yang tercermin dalam iklan tersebut adalah gaya kehidupan anak muda yang bebas, seperti ngga’ ada beban, dan yang jelas mencerminkan kehidupan cewe’-cewe’ jaman sekarang. Seperti yang ada dalam lirik sebuah lagu “ cewe’-cewe’ jaman sekarang, banyak yang badung dan banyak yang nakal, udah mulai berani dalam berpakaian, bikin banyak cowo’ yang terangsang, baju japret puser kliatan, cewe’ indies istilahnya sekarang, brani bikin sensasi diliatin banyak orang, maklumlah katanya ngikutin jaman, cewe’indies…kehidupan tuk gaya, gaul dan makan…” (the joker, cewe’ indies, dari album ska mania). Selain itu dengan pose yang menggoda, dimana pose yang menggoda itu ada pada adegan sewaktu mereka ingin bersiap-siap untuk ke garasi, dan menuju mobil dan di dalam mobil yang terbuka itulah mereka memperlihatkan wajah cantik mereka karena sentuhan RED-A, selain itu mereka juga memperlihatkan sensualitas tubuh mereka dengan pose yang menggoda dengan dibalut busana sexy(misalnya saja, duduk di mobil dengan pose yang tidak sewajarnya, kaki di letakkan di setir, dsb.)) dan yang di ekspose pun tubuh bagian kaki keatas dari pemeran iklan tersebut (mungkin karena kameramennya adalah laki-laki). Kondisi ini dipertegas oleh otoritas media massa yang mengeksploitasi habis-habisan tubuh perempuan. Padahal yang melihat iklan ini bukan hanya kaum wanitanya saja melainkan kaum laki-laki pun juga bisa melihatnya. Seperti yang dikatakan Deddy Mulyana (1999)“ iklan diciptakan semata-mata untuk kepuasan kaum lelaki ”. Seperti halnya dalam iklan RED-A ini, dengan busana yang sexy, pose yang menggoda, akan menjadi santapan mata lelaki. Ditambah dengan adanya sentuhan kosmetik pada wajah-wajah mereka akan menambah kesan sexy pada tokoh wanita dalam iklan tersebut. Dan di dalam iklan ini juga tidak terlepas dari cultural tentang feminitas,ini mengidealisasikan appearance dari kaum wanita yang sangat dekat dengan citra feminin. “ kebanyakan iklan di media massa merupakan reproduksi stereotip peran tradisional kaum wanita ” (Deddy mulyana, 1999). wanita di dalam iklan ini, didentikkan dengan kegemarannya yaitu bersolek. Sedangkan feminitas seorang wanita di identifikasikan dengan kecantikan, kelembutan dan kehalusan kulit, serta tubuh yang proporsional. Sama seperti dalam iklan RED-A. Dalam hal ini, kecantikan menjadi sentral dari feminitas, dimana wanita di idealkan sebagai inkarnasi dari kecantikan fisik (Ratna noviani).


Referensi buku

Deddy mulyana, 1999. Nuansa-nuansa komunikasi. Meneropong politik dan budaya komunikasi masyarakat kontemporer. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ratna Noviani, 2002. Jalan tengah memahami iklan. Yogyakarta : pustaka pelajar.

Friday, April 22, 2005

SEKSUALITAS DALAM IKLAN HEMAVITON

Oleh : Eva Ratna Furi (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)


I. PENDAHULUAN

Iklan (dan jenis media massa lain) merangkum aspek-aspek realitas sosial (yang dalam pengertian marchand di sebut sebagai dilema-dilema sosial). Tetapi ia mempresentasikan aspek-aspek tersebut secara tidak jujur.Ia menjadi cermin yang mendistorsi bentuk-bentuk obyek yang di refleksikannya tetapi juga menampilkan citra-citra dalam visinya.Iklan tidak berbohong tapi juga tidak menyatakan yang sebenarnya( dalam noviani, 2002:54).
Iklan adalah magis karena iklan mamu mentransformasikan komoditas kedalam tanda glamour dan pertanda tersebut menghadirkan satu dunia imajiner. Sifat magis itu mampu menyihir konsumen untuk mengkonsumsi produk tersebut.
Salah satu cara untuk membantu konsumen dalam mengidentifikasi produk yang di butuhkan oleh masyarakat, simbolisasi produk dalam iklan sebetulnya sebuah bentuk penyampaian kembali budaya dan nilai-nilai yang ada dan diyakini oleh masyarakat. Artinya,realitas yang dipresentasikan dalam iklan dengan menggunakan pencitraan atau simbolisasi makna.
Isu feminisme oleh banyak orang di yakini sebagai sebuah perlawanan atas dominannyaideologi patriakhi. Perempuan menjadi begitu kritis dengan bahasa-bahasa dan tindakan-tindakan yang di dalamnya terkandung muatan-muatan pengucilan(segresi) atas perempuan. Mereka menyadari bentuk-bentuknya itu akan selalu muncul dalam berbagai wajah,kadang kala bahkan tanpa di sadari oleh kaum perempuan sendiri. Kapitalisme dan teknologi merampungkan sebuh kolaborasi yang dasyat yang terwujud dalam wajah media massa. Kolaborasi dari kedua bentuk kebudayaan ini menampakkan secara santun ideologinya yang seksis dan menegaskan bahwa laki-laki adalah pusat keutamaan dan wanita adalah yang lain.
Seksism (Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin) dalam peliputan media. Proporsi peliputan perempuan dan laki-laki tidak seimbang. Pandangan yang seksis ini juga terjadi dalam pelekatan citra perempuan dan laki-laki di televisi. Di banding karakter laki-laki, figur perempuan cenderung digambarkan sebagai kurang dewasa sehingga dianggap kurang berwenang dalam menangani berbagai persoalan.





II. PEMBAHASAN

Iklan Hemaviton ditampilkan dua orang cowok yang di kelilingi dua orang perempuan seksi yang berparas cantik. Bukan hanya cantik perempuan tersebut bisa dikatakan cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan bisa dikatakan bahwa hampir semua orang mengenalinya yaitu Agnes monika dan Denada. Dalam iklan tersebut menurut pengiklan perempuan dianggap sebagai pemanis atau aksesoris yang menarik. Faktor seksualitas perempuan sering digunakan sebagai model di berbagai iklan. Dalam iklan hemaviton dengan jelas menampilkan wanita yang menjadi obyek para pria. Iklan ini memiliki pesan verbal”Hemaviton Action Siap Action”
Dalam mengkonstruksi maupun mempresentasikan sosok wanita dan pria. Pria sering di gambarkan (direpresentasikan) sebagai pemegang kekuasaan dan dominasi, ia juga berperan sebagai pihak yang diharuskan memiliki semangat, keberanian, dan kekuatan yang nantinya akan menunjukkan kelelakiannya. Disini adalah para pria yang berbadan berotot, yang mencerminkan kekuatan. Sedang wanita sering digambarkan sebagai sosok yang menunjukkan citra femininnya melalui kecantikan, perhatian,lemah, lembut,langsing seksi dan berhubungan dengan pemuasan terhadap kebutuhan kebutuhan laki-laki (wanita yang cantik dan seksi sebagai pendamping pria).
Kehadiran wanita dalam iklan, di akui oleh kalangan pengiklan, memang di butuhkan untuk memperkuat daya jual dari sebuah produk. Bahkan dikatakan bahwa tampilnya wanita dalam iklan merupakan elemen yang sangat menjual.
Tampilnya laki-laki dan perempuan dalam iklan hemaviton merupakan dominan dalam memberi kesan perempuan di dudukkan dalam posisi sebagai patner, ini menyiratkan bahwa perempuan semakin di sejajarkan dengan laki-laki, karena patner disini menunjukkan pada suatu kedudukan yang sifatnya sepadan. Hal ini tampak dari posisi yang di tempati perempuan, di satu sisi perempuan merupakan alat persuasi di dalam menegaskan citra produk dan di sisi lain perempuan merupakan konsumen yang mengkonsumsi produk kapitalis.
Pengiklan menggunakan bahasa dan simbol untuk melakukan pencitraan terhadap produk hemaviton . Disini pria dan wanita yang menjadi target pasarnya, terutama orang-orang yang mempunyai mobilitas tinggi.







III. KESIMPULAN

Iklan Hemaviton telah menyajikan penggambaran perempuan yang di jadikan patner laki-laki , peremupuan cenderung di tampilkan sebagai dekoratif seperti juga pada iklan ini. Wanita sering digambarkan sebagai sosok yang menunjukkan citra femininnya melalui kecantikan, perhatian, lemah, lembut, langsing seksi dan berhubungan dengan pemuasan terhadap kebutuhan kebutuhan laki-laki (wanita yang cantik dan seksi sebagai pendamping pria). Pria sering di gambarkan (direpresentasikan) sebagai pemegang kekuasaan dan dominasi, ia juga berperan sebagai pihak yang diharuskan memiliki semangat, keberanian, dan kekuatan yang nantinya akan menunjukkan kelelakiannya.
Proporsi peliputan perempuan dan laki-laki tidak seimbang. Pandangan yang seksis ini juga terjadi dalam pelekatan citra perempuan dan laki-laki di televisi. Di banding karakter laki-laki, figur perempuan cenderung digambarkan sebagai kurang dewasa sehingga dianggap kurang berwenang dalam menangani berbagai persoalan.

PUBLIK DISUGUHI BERITA YANG KOMERSIL

Oleh : AGUS SUSANTI (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM 20020530176, peserta mata kuliah sosiologi komunikasi)




Tiada hari tanpa gossip”, pernyataan itulah yang menjadi trend dalam kehidupan saat ini.gosip tidak hanya menyerang kaum hawa saja, tetapi juga menyerang kaum adam. Mengapa hal ini bias terjadi? Pertanyaan ini memang pantas untuk kita tanyakan karena pada era dahulu, yang namanya gossip lebih identik melekat pada kaum hawa. Kita tentu tahu dalam satu hari setiap stasiun televisi lebih dari satu kali menayangkan berita infotainment dengan jam tayang yang hampir bersamaan. Dimulai pada pagi hari, yang lazimnya orang akan memulai aktivitas kesehariannya,pada saat itu juga sudah dapat melihat tayangan gossip ditelevisi. Ketika hari beranjak siang, infotainmentpun sudah dengan setia muncul dilayar televise, begitu juga pada sore harinya berita gossip bertaburan menghiasi hampir seluruh stasiun televisi. Maka otomatis setiap hari kita dapat mengetahui acara-acara gossip terbaru dari para selebritis. Walaupun kalau kita perhatikan lebih cermat, bahwa pada dasarnya setiap berita yang dimunculkan pada satu stasiun televise, sama isi beritanya dengan stasiun lainnya, hanya saja cara penyajian dan penyampaian beritanya yang lumayan berbeda.
Berita gossip tidak hanya dikonsumsi oleh para kaum dewasa saja, tetapi kaum mudapun tak luput gemar bahkan senang dan menjadikan menonton acara gossip adalah suatu kewajiban. Mereka berasumsi jika tidak melihat acara gossip, maka mereka akan dibilang ketinggalan gossip. Setiap stasiun televisi juga memiliki strategi khusus untuk menjaring para pemirsa supaya tetap staytune disalurannya. Dengan cara, mereka berusaha sebesar mungkin mencari berita ya ng paling gress dan fresh.
Berita adalah suatu bentuk informasi, baik yang peristiwanya sudah lampau maupun yang terkini sedang terjadi. Sedangkan jika ditinjau dari tujuan pemberitaan itu sendiri adalah, memberikan atau menyampaikan suatu gayainformasi kepada khalayak luas ataupun kepada individu. Dalam berita juga terdapat isi ilmu pengetahuan, pendidikan dan hiburan.
Namun yang terjadi pada saat ini, informasi yang diberitakan bukan lagi berisi hiburan yang mendidik, tetapi berita yang dimuat justru didominasi oleh berita yang menyebar aib seseorang. Para pencari berita tidak hanya membuat orang yang diberitakan menjadi merasa tertekan, tetapi sekaligus menjadi malu karena privasinya sudah disebar luaskan. Sehingga hal ini akan memberi dampak yang buruk bagi psikhis para penontonnya.
Televisi adalah salah satu media elektronik yang memiliki andil besar dalam membentuk karakter masyarakat untuk beropini dalam bergaya hidup.keberadaan media cukup efektif mempengaruhi tidak saja opini pada suatu peristiwa, namun juga dapat mengubah kecenderungan gaya hidup masyarakat. Etika profesi seharusnya menjadi acuan kerja yang menjadi pedoman ketika menyusun dan menyajikan satu materi siaran. Etika siaran sebagai pranata sosial seharusnya dijadikan pemandu lembaga siaran agar kelembagaan institusi tersebut benar-benar memiliki komitmen moral yang diarahkan pada kebenaran dan kebijakan public. Sehingga media tidak dikendalikan oleh daya-daya tak berwajah yaitu rezim kapitalisme industri(Van peursen,1985).
Tanggung jawab moral media televise menjadi semakin tererosi oleh kepentingan ekonomi. Tapi celakanya dalam rangka menghegomoni imajinasi dan kesadaran public itu cara yang dilakukan dengan mengorbankan standard kepatutan publik yang mustinya menjadi acuan. Untuk mengatasi masalah tersebut hendaknya setiap stasiun televisi harus bisa memilih,mana berita yang pantas dikonsumsi oleh publik dan yang tidak. Setiap stasiun televisi harus sadar dan jangan mementingkan idiologinya (teori yang tidak berorientasi pada kebenaran,melainkan pada kepentingan pihak yang mempropagandakannya. Minimal idiologi dianggap sebagai system berfikir yang sudah terkena distrosi, entah disadari atau tidak[sobur,2001,66]).Agar moral bangsa tidak tercemar karena mencontoh hal-hal yang tidak baik, yang dimunculkan oleh segelintir orang saja.

KONGLOMERASI INDUSTRI PENYIARAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI POLITIK

Oleh : Yuli K (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)

A. Pendahuluan
Dunia penyiaran di Indonesia dewasa ini berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi informasi. Hal ini tentu telah banyak membawa perubahan kehidupan masyarakat Indonesia baik secara ekonomi, budaya, politik, dan lain – lain. Perkembangan dunia penyiaran selain dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik juga karena adanya tuntutan untuk dapat menyajikan infotainment yang cepat, akurat, dan terbuka. Apalagi kondisi masyarakat kita yang sangat konsumtif yang selalu menginginkan adanya sesuatu yang lain dari acara yang ditontonnya.
Denagn banyaknya stasiun televisi, radio ataupun surat kabar yang ada masyarakat semakin dimanjakan dengan hiburan, berita, dan sajian – sajian yang bervariasi. Ketika terjadi kebosanan pada satu stasiun televisi maka dengan mudah dapat mengganti channel lain atau mencari surat kabar lain yang diinginkannya. Hal ini tentu saja merupakan peluang bisnis yang bagus bagi mereka yang dapat menangkap keadaan tersebut

B. Pembahasan
Persaingan dibidang media massa telah membuka peluang baru seiring dengan semakin ketatnya persaingan bisnis informasi dan komunikasi, media massa dituntut untuk menampilkan acara, berita ataupun sajian yang dapat menarik penonton. Industri media tentu saja tidak dapat lepas dari kompetisi dan persaingan. Ketika beberapa perusahaan muncul dan memasok pada pasar yang sama dengan menu yang hampir sama maka persaingan tak dapat dihindarkan dan ini menjadi suatu konsekuensi yang harus dihadapi. Hanya perusahaan – perusahaan yang memiliki modal besar yang akan mampu bersaing dan memenangkan kompetisi tersebut.
Persaingan seperti inilah yang pada akhirnya memunculkan konsentrasi industri pada perusahaan – perusahaan besar, sebab perusahaan kecil yang tidak mampu untuk bertahan akan diambil alih oleh perusahaan besar atau paling tidak akan melakukan merger. Konsentrasi dalam hal kepemilikan perusahaan inilah yang pada akhirnya diikuti dengan konglomerasi yang ditandai dengan adanya perusahaan besar yang memiliki kumpulan perusahaan kecil yang bergerak dalam wilayah bisnis yang beraneka ragam. Dalam hal kepemilikan media ada dua tipe konsentrasi yaitu integrasi horisontal dan integrasi vertikal.
Tipe integrasi horisontal adalah proses dimana sebuah perusahaan membeli beberapa media yang berbeda yang tujuannya adalah untuk mendukung operasi dari masing – masing media. Sebagai contoh MNC (Media Nusantara Citra) yang saat ini menguasai RCTI, TPI, dan Global TV. Kompas yang menguasai TV7, Kawanku, Intisari, dan Bola.
Integrasi vertikal yaitu proses dimana perusahaan memiliki semua aspek produksi dan distribusi dari setiap produk media. Misalnya Indosiar dengan Akademi Fantasi Indosiarnya dimana dari proses pengambilan formulir dari majalah remaja Gaul, audisinya untuk daerah Jogjakarta dilaksanakan di JEC dan promosinya stasiun radio Geronimo FM. Bahkan setelah para akademia selesai menjalani masa pendidikan kontrak kerja yang dilakukannya juga hanya untuk Indosiar dan anak perusahaanya.
Dalam hal ini secara ekonomi politik hal seperti ini sangat dominan untuk mempertahankan status quo yang dipegangnya dan sebagai sarana pemilik modal untuk melipatgandakan modalnya, yang pada akhirnya akan menekan kelas – kelas dibawahnya dengan tujuan untuk menguasainya. Selain itu pemilikan media yang hanya dimiliki oleh sebagian pengusaha dan penguasa akan menimbulkan penyakit sosial karena hanya membuat media tertentu mendominasi wacana publik dengan mengalahkan media yang lainnya yang tidak memiliki modal besar.
Selain itu konsentrasi kepemilikan media ternyata menimbulkan efek konsentrasi antara lain homogenitas produk media dan kontrol media. Dimana acara atau program yang ditayangkan oleh media televisi hampir sama seperti tayangan Dunia Lain, Pemburu Hantu, tayangan Uka – Uka,Gentayangan. Deretan contoh bisa ditambahkan dengan penayangan sinetron komedi-horor Impian Pengantin, Jin Mooi, dan Mody Juragan Kost yang merupakan muara dari sukses Si Manis Jembatan Ancol. Karena begitu mengetahui acara yang disajikan mendapat rating yang tinggi dan tanggapan dari pemirsanya cukup bagus maka akan membuat acara lain yang sejenis. Hal seperti ini tentunya akan membuat kontrol media tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena mutu dari siaran lagi dipertimbangkan. Upaya untuk mengejar keuntungan dari acara yang disajikan menjadi tujuan untuk memaksimalkan profit.
Tetapi bisnis kepemilikan media di Indonesia untuk masa mendatang masih dapat menjanjikan keuntungan yang baik. Apalagi ditunjang dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif dan cenderung untuk mengutamakan hiburan sebagai kebutuhan pokok tambahan.

C. Penutup
Dari uraian diatas dapat disimpulkan konglomerasi terjadi karena adanya konsentrasi kepemilikan media yang mana konglomerasi ditandai dengan adanya perusahaan besar yang memiliki kumpulan perusahaan kecil, yang bergerak dalam wilayah bisnis yang sama. Yang pada akhirnya hanya akan menguasai dan tidak memberikan ruang gerak untuk berkembang bagi pemilik modal yang kecil, serta akan menimbulkan penyakit sosial masyarakat. Karena mutu acara atau program yang disajikan tidak lagi dipandang penting, pemilik modal hanya berfikir bagaimana mendapatkan keuntungan dan profit dari acara tersebut. Dan apabila hal ini dibiarkan bukan tidak mungkin bangsa ini pada akhirnya akan menjadi negara kapitalis yang perekonomiannya hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Sementara usaha kecil dan hanya dapat berharap untuk dibeli atau diangkat menjadi anak perusahaan yang memiliki modal besar.



DAFTAR PUSTAKA

Wardhana, Veven Sp. 1997. Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

www.sosiologikomunikasi.blogspot.com, Political Economy, Media dengan Institusi Sosial Lain, Lima Genre Utama Teori Media Kritis

Friday, April 08, 2005

Sosiologi Komunikasi Kelas D

Paper di atas adalah paper terbaik di kelas "D" mata kuliah Sosiologi Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2004/2005