Oleh : Oktaria Hermin (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)
Dalam iklan ini menceritakan tentang tiga orang cewe’ yang masih muda belia, cantik, memiliki tubuh yang proporsional (langsing dan sexy), dan berkulit mulus. Mereka bertiga berencana hang out. Sebelum mereka keluar, mereka ingin tampil secantik mungkin. Kemudian mereka merias wajah mereka habis-habisan dengan menggunakan produk kecantikan dari RED-A. walaupun akhirnya mereka tidak jadi pergi karena hujan. Di dalam iklan tersebut, tubuh ketiga cewe’ cantik tadi di ekspose habis-habisan. Seperti kita tahu , RED-A dalam iklan ini, merupakan produk kecantikan untuk wajah, namun pada kenyataannya yang diekspose tidak hanya wajah mereka yang cantik saja, melainkan seluruh tubuh ketiga cewe’ cantik inipun turut di ekspose. Ditambah dengan menggunakan baju-baju yang sangat minimalis, ketiga cewe’ inipun mempertontonkan keindahan tubuh mereka. Ada yang hanya dengan menggunaan tank top dan celana yang sangat pendek, kemudian ada yang mengenakan rok mini yang di padupadankan dengan baju yang memperlihatkan puser. gaya hidup yang tercermin dalam iklan tersebut adalah gaya kehidupan anak muda yang bebas, seperti ngga’ ada beban, dan yang jelas mencerminkan kehidupan cewe’-cewe’ jaman sekarang. Seperti yang ada dalam lirik sebuah lagu “ cewe’-cewe’ jaman sekarang, banyak yang badung dan banyak yang nakal, udah mulai berani dalam berpakaian, bikin banyak cowo’ yang terangsang, baju japret puser kliatan, cewe’ indies istilahnya sekarang, brani bikin sensasi diliatin banyak orang, maklumlah katanya ngikutin jaman, cewe’indies…kehidupan tuk gaya, gaul dan makan…” (the joker, cewe’ indies, dari album ska mania). Selain itu dengan pose yang menggoda, dimana pose yang menggoda itu ada pada adegan sewaktu mereka ingin bersiap-siap untuk ke garasi, dan menuju mobil dan di dalam mobil yang terbuka itulah mereka memperlihatkan wajah cantik mereka karena sentuhan RED-A, selain itu mereka juga memperlihatkan sensualitas tubuh mereka dengan pose yang menggoda dengan dibalut busana sexy(misalnya saja, duduk di mobil dengan pose yang tidak sewajarnya, kaki di letakkan di setir, dsb.)) dan yang di ekspose pun tubuh bagian kaki keatas dari pemeran iklan tersebut (mungkin karena kameramennya adalah laki-laki). Kondisi ini dipertegas oleh otoritas media massa yang mengeksploitasi habis-habisan tubuh perempuan. Padahal yang melihat iklan ini bukan hanya kaum wanitanya saja melainkan kaum laki-laki pun juga bisa melihatnya. Seperti yang dikatakan Deddy Mulyana (1999)“ iklan diciptakan semata-mata untuk kepuasan kaum lelaki ”. Seperti halnya dalam iklan RED-A ini, dengan busana yang sexy, pose yang menggoda, akan menjadi santapan mata lelaki. Ditambah dengan adanya sentuhan kosmetik pada wajah-wajah mereka akan menambah kesan sexy pada tokoh wanita dalam iklan tersebut. Dan di dalam iklan ini juga tidak terlepas dari cultural tentang feminitas,ini mengidealisasikan appearance dari kaum wanita yang sangat dekat dengan citra feminin. “ kebanyakan iklan di media massa merupakan reproduksi stereotip peran tradisional kaum wanita ” (Deddy mulyana, 1999). wanita di dalam iklan ini, didentikkan dengan kegemarannya yaitu bersolek. Sedangkan feminitas seorang wanita di identifikasikan dengan kecantikan, kelembutan dan kehalusan kulit, serta tubuh yang proporsional. Sama seperti dalam iklan RED-A. Dalam hal ini, kecantikan menjadi sentral dari feminitas, dimana wanita di idealkan sebagai inkarnasi dari kecantikan fisik (Ratna noviani).
Referensi buku
Deddy mulyana, 1999. Nuansa-nuansa komunikasi. Meneropong politik dan budaya komunikasi masyarakat kontemporer. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Ratna Noviani, 2002. Jalan tengah memahami iklan. Yogyakarta : pustaka pelajar.